Kasus TPPU Mantan Kepala Bea Cukai Yogyakarta Eko Darmanto, KPK Periksa 2 Saksi

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang melibatkan mantan Kepala Kantor Bea dan Cukai Yogyakarta, Eko Darmanto. Lembaga antirasuah hari ini memanggil dua orang sebagai saksi dalam kasus tersebut.

“Tim penyidik ​​telah menetapkan tanggal pemanggilan dan pemeriksaan saksi pada hari ini (19 April) di Gedung Merah Putih KPK,” kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri, Jumat (19 April 2024).

Dua saksi yang diperiksa adalah Bernard Aryanto selaku desainer kendaraan klasik dan Rika Yunartika dari pihak swasta. Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil dua orang saksi untuk mendalami tuduhan kasus TPPU Eko Darmanto, Kamis (18/4/2024).

Kedua saksi yang dipanggil merupakan pejabat Pemerintah BPN Kabupaten Sukabumi Hj. Iyan Mulyanah dan pejabat negara Bapenda Sukabumi, Kabupaten Hari Ramdani. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memulai penyidikan kasus TPPU Eko Darmanto.

Penyidikan bermula setelah Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan analisa lebih lanjut dan menemukan fakta baru terkait dugaan penyembunyian dan penyembunyian asal usul harta miliknya. Komisi Pemberantasan Korupsi tengah mengusut kasus dugaan suap Rp10 miliar terhadap Eko Darmanto.

Pemeriksaan terhadap Eko Darmanto bermula dari dugaan adanya kejanggalan dalam laporan resmi barang milik negara (LHKPN). LHKPN Eko Darmanto masuk dalam kategori outlier. Komisi Pemberantasan Korupsi kemudian menindaklanjuti penemuan tersebut ke tahap penyidikan.

Temuan KPK menunjukkan utang Eko Darmanto meningkat drastis sepanjang tahun ini. Hutang tersebut tidak sebanding dengan penghasilannya. Ada kejanggalan dalam laporan harta kekayaan Eko.

Utang Eco bertambah Rp 500 juta dari sebelumnya Rp 8.525.000.000 (Rp 8,5 miliar) pada tahun 2020 menjadi Rp 9.018.740.000 (Rp 9 miliar) pada tahun 2021. Selain utang, KPK juga menyoroti. Darmanto.

Laporan aset yang diserahkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi menunjukkan, Eko telah mengoleksi beberapa mobil tua dan langka, termasuk Jeep Willys tahun 1944 senilai Rp 150 juta. Kemudian Chevrolet Bell Air 1955 senilai Rp200 juta; Dodge Fargo 1957 senilai Rp150 juta; Chevrolet Apache 1958 senilai Rp 200 juta; dan Ford Bronco tahun 1972 senilai Rp 150 juta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *