Nasib Rupiah Masih Merana, Sore Ini Ditutup Anjlok ke Rp16.210

JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini kembali ditutup menguat 22 poin menjadi Rp16.210 setelah Rp16.187 terhadap dolar AS.

Analis pasar saham Ibrahim Assuabi mengatakan indeks dolar AS kembali menguat setelah Departemen Perdagangan melaporkan PDB AS tumbuh secara tahunan sebesar 1,6% pada periode Januari-Maret. Angka tersebut lebih lambat dari perkiraan tingkat pertumbuhan sebesar 2,4% oleh para analis yang disurvei oleh Reuters.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa inflasi yang diukur dengan Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) meningkat sebesar 3,7% pada kuartal pertama, melebihi ekspektasi kenaikan sebesar 3,4%. /4/2024) –

Inflasi yang tidak terduga menyoroti rilis data harga PCE bulan Maret lebih dari biasanya. Indeks PCE dan Indeks PCE Inti yang memperhitungkan harga pangan dan energi Ini adalah salah satu ukuran terpenting yang digunakan The Fed untuk mengukur kebijakan. Inflasi tetap di atas 2% untuk Federal Reserve.

Investor berharap pertemuan kebijakan Bank of Japan (BOJ), yang berakhir pada hari Jumat, tidak akan berjalan cukup cepat untuk mendukung mata uang tersebut. mata uang Jepang Investor memperkirakan dolar/yen akan tetap di 155 sebagai ambang batas bagi otoritas Jepang. Ini lebih dari kemampuan BOJ untuk melakukan intervensi untuk mendukung mata uangnya.

Setelah data PDB, pasar berjangka suku bunga AS Kemungkinan The Fed memangkas suku bunga adalah 58% pada bulan September, turun dari 70% pada hari Rabu, menurut alat FedWatch CME Group (NASDAQ: CME). Pedagang di pasar berjangka suku bunga pada hari Kamis memperkirakan penurunan suku bunga pertama The Fed sejak tahun 2020 kemungkinan sebesar 68% pada pertemuan bulan November.

Dalam hal kepercayaan dalam negeri Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pelaksanaan APBN hingga Maret 2024 masih mengalami surplus pada saat yang sama Total posisi APBN masih surplus sebesar Rp8,1 triliun atau 0,04 persen PDB, sedangkan saldo awal surplus sebesar 122,1 triliun.

Lalu surplus muncul karena pendapatan pemerintah melebihi belanja APBN. Hingga bulan Maret, telah terkumpul 620,01 triliun riyal, atau 22,1 persen dari target kuartal pertama sebesar $2,802,3 triliun. Pendapatan ini turun 4,1 persen dibandingkan tahun lalu.

Sementara belanja pemerintah sudah melampaui sekitar Rp611,9 triliun. atau 18,4 persen dari total belanja tahun ini sebesar $3,325.1 triliun. Jadi jika pendapatan pemerintah meningkat 22 persen dari target, belanja pada kuartal ini akan meningkat 18,4 persen.

Kalau melihat belanja pada kuartal pertama, Januari-Maret, meningkat 18 persen dibandingkan tahun lalu, artinya sebenarnya ada belanja di muka, misalnya untuk penyelenggaraan pemilu.

Pada perdagangan sore ini Rupiah ditutup melemah 22 poin pada Rp 16.210 per dolar AS. Sementara itu untuk perdagangan minggu depan Mata uang Rupiah mungkin bergejolak namun mendekati kisaran Rp16.180 – Rp16.260.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *