Sekretaris MUI Sulsel: Lebaran Ketupat Manifestasi Kerukunan Masyarakat

MAKASSAR – Perayaan Idul Fitri 1445 Hijriah diwarnai dengan berbagai tradisi budaya dan kearifan lokal yang semakin mempererat tali silaturahmi antar masyarakat.

Nilai dan adat istiadat yang juga dianut tentu tidak ada salahnya selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Muammar Bakry menjelaskan, perayaan Idul Fitri di berbagai daerah biasanya berkaitan dengan adat istiadat masyarakatnya.

Bahkan dapat memperkuat semangat toleransi antar kelompok di masyarakat Indonesia.

“Kita patut bersyukur menjadi umat Islam yang tinggal di Indonesia atau umat Islam Indonesia. Menerima Islam di negara lain belum tentu senyaman di Indonesia. “Juga rasa syukur menjadi orang Indonesia ini ada karena umat Islam terbantu dengan nilai-nilai kebaikan lokal atau yang kita kenal juga dengan kearifan lokal,” kata Muammar Bakry di Makassar, dikutip Sabtu (20/04/2024). , dia berkata.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar menjelaskan, kearifan lokal dikenal dengan istilah ma’ruf dalam Al-Qur’an.

Penggunaan istilah ma’ruf sendiri merujuk pada seluruh nilai-nilai kebaikan, baik yang bersumber dari ajaran agama maupun yang bersumber dari masyarakat yang mengamalkannya.

Sepanjang nilai-nilai kearifan lokal yang diterapkan tidak bertentangan dengan syariat Islam, lanjutnya, maka hakikat kebaikan yang ada di dalamnya harus dikembangkan dan dilestarikan sebagai wujud kekayaan budaya umat Islam di Indonesia.

Imam Besar Masjid Al Markaz juga menjelaskan kearifan lokal saat Idul Fitri, seperti Ketupat Idul Fitri yang biasa dilakukan beberapa hari setelah Idul Fitri 1 Syawal.

Menurutnya, adat istiadat masyarakat seperti ini positif karena dapat meningkatkan keharmonisan masyarakat dan menunjukkan keterkaitan yang kuat antara Idul Fitri dengan semangat kebangsaan Indonesia.

“Ada makna yang sangat nyata antara perayaan Idul Fitri dengan semangat kebangsaan dan persatuan bangsa Indonesia. Mengapa? Karena salah satu makna Idul Fitri adalah kembali ke alam,” ujarnya.

“Sudah menjadi kodrat kita diciptakan berbangsa dan bersuku. Makanya masyarakat rindu mudik ke kampung halaman di hari raya Idul Fitri, karena sudah kodrat manusia menjadi warga desa yang mempunyai tanah air dan bangsanya sendiri,” lanjutnya.

Akademisi yang aktif menyoroti isu toleransi dan moderasi beragama ini mengatakan, bangsa Indonesia yang terdiri dari banyak suku berbeda-beda, tentu mempunyai naluri kesukuan tersendiri dan sulit dipisahkan.

Rasa memiliki terhadap suku dan bangsa yang kuat, serta sifat kemanusiaan yang melekat membuat banyak orang rindu kampung halaman saat Idul Fitri.

Kondisi ini memaksa banyak masyarakat untuk mudik atau pulang ke kampung halaman. Semangat mudik ini sebenarnya juga menunjukkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara yang selalu terlihat saat Idul Fitri.

“Perayaan Idul Fitri juga berarti buka puasa atau futur yang artinya sarapan pagi atau sarapan pagi. Dimaknai demikian, Idul Fitri berarti kembali sarapan atau sarapan pagi setelah diwajibkan berpuasa selama sebulan. Oleh karena itu haram bagi masyarakat untuk berpuasa pada hari raya Idul Fitri atau Idul Fitri, jelasnya.

Beliau kemudian menjelaskan kewajiban zakat fitrah setelah puasa. Menurutnya, Zakat fitrah merupakan makanan pokok yang wajib dikeluarkan atau dikeluarkan sebagai Zakat.

Hal ini dilakukan dengan harapan semua orang dapat menikmati makanan pokok di hari raya Idul Fitri.

“Hanya saja kalau disajikan dalam bentuk nasi, biasa kita lihat setiap hari. Oleh karena itu dikemas dalam bentuk ketupat yang sebenarnya juga merupakan bagian dari budaya atau kearifan lokal masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, sangat wajar jika Idul Fitri dikaitkan dengan Idul Fitri Ketupat, kata Prof. Muammar Bakry.

Dikatakannya, dengan adanya zakat fitrah yang diberikan setiap umat Islam sebelum tanggal 1 Syawal, tidak ada orang yang tidak makan nasi atau nasi bungkus dalam bentuk ketupat saat hari raya tiba.

Selain bisa kembali menikmati makanan pokok khas Indonesia yaitu ketupat, ada juga nilai rasa memiliki yang terkandung di dalamnya.

Saat Idul Fitri, tidak ada perbedaan antara orang kaya dan orang miskin karena mereka semua menikmati makanan yang sama yaitu ketupat.

Muammar Bakry juga menambahkan, Ketupat Idul Fitri merupakan salah satu contoh Islam yang berbudaya.

Bahkan, budaya tersebut juga menjadi catatan ajaran Islam, yakni perayaan Idul Fitri dilanjutkan dengan puasa Syawal enam hari.

Puasa Syawal enam hari yang sebenarnya kemudian bercampur dengan adat istiadat masyarakat yang suka berkumpul dan makan, sehingga lahirlah budaya Idul Fitri Ketupat.

“Kalau ada yang mau menjalankan puasa Syawal setelah Ketupat Idul Fitri, boleh saja. Jelas bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai agama tidak boleh sempit dan harus selalu menerima bahwa budaya sudah pasti bertentangan dengan syariat. “Itu tidak mungkin terjadi,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *